PERTANGGUNGJAWABAN INTERNASIONAL AKIBAT KERUGIAN DARI TABRAKAN SATELIT DI ANTARIKSA YANG DISEBABKAN OLEH DEORBIT
DOI:
https://doi.org/10.35194/jj.v5i01.4884Keywords:
Antariksa, Deorbit, Hukum, Kerugian, Pertanggungjawaban, Law, Liability, Loss, Space.Abstract
ABSTRAK
Hukum antariksa berkembang secara signifikan semenjak konvensi pertamanya yang diterbitkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa pada tahun 1967. Perkembangan hukum antariksa tidak hanya memberikan dampak yang signifikan dalam hukum internasional, tetapi juga pada penerapannya. Salah satu penerapan hukum antariksa pada praktiknya adalah adanya satelit-satelit yang diluncurkan oleh negara pendaftar ke antariksa. Melalui perkembangan hukum antariksa yang ada melalui konvensi internasional tentang pertanggungjawaban di antariksa pada tahun 1972 salah satunya adalah mengenai benturan langsung satelit yang mengakibatkan kerugian nyata bagi negara pendaftar satelit. Melalui hal ini satelit yang diluncurkan ke antariksa oleh negara pendaftar haruslah dilakukan juga syarat untuk deorbit karena terdapat jangka waktu satelit sehingga tidak dapat difungsikan sebagaimana harusnya. Deorbit merupakan mekanisme satelit untuk dinonaktifkan karena alasan-alasan yang beragam dan dititikberatkan kepada fungsionalitas. Pengaturan mengenai deorbit harus dihidupkan dalam mekanisme peluncuran satelit untuk mereduksi kerugian-kerugian yang mungkin timbul. Fokus pembahasan dalam kasus ini adalah untuk menekankan seberapa pentingnya deorbit dalam mekanisme peluncuran pada hukum antariksa dengan menggunakan metode penelitian yuridis normatif. Melalui pendekatan perundang-undangan dan kasus, maka dapat ditemukan bahwa deorbit adalah kebutuhan dalam pembaharuan hukum antariksa.
ABSTRACT
Space law has developed significantly since its first convention was published by the United Nations in 1967. The development of space law has not only had a significant impact on international law, but also on its application. One application of space law in practice is the existence of satellites launched by registrant countries into space. Through the development of existing space law through the international convention on responsibility in outer space in 1972, one of which concerns direct satellite collisions which result in real losses for the country registering the satellite. Through this, satellites launched into space by the registering country must also be subject to deorbit requirements because there is a time period for the satellite so that it cannot function as it should. Deorbit is a mechanism for satellites to be deactivated for various reasons and the emphasis is on functionality. Arrangements regarding deorbit must be turned on in the satellite launch mechanism to reduce losses that may arise. The focus of the discussion in this case is to emphasize how important deorbit is in the launch mechanism in space law using normative juridical research methods. Through a legislative and case approach, it can be found that deorbit is a necessity in reforming space law.
References
Adilov, N., Braun, V., Alexander, P., & Cunningham, B. (2023). An estimate of expected economic losses from satellite collisions with orbital debris. Journal of Space Safety Engineering, 10(1), 66–69.
Farhani, A., & Chandranegara, I. S. (2019). Penguasaan Negara terhadap Pemanfaatan Sumber Daya Alam Ruang Angkasa Menurut Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Jurnal Konstitusi, 16(2), 235–254. https://doi.org/10.31078/jk1622
Hardiana, I., & Fikrana, G. (2022). Gagasan Pembangunan Bandar Antariksa di Indonesia. Sekretariat Kabinet Republik Indonesia. https://setkab.go.id/gagasan-pembangunan-bandar-antariksa-di-indonesia/
Herdiansyah, H. (2018). Kebijakan Strategis Mitigasi Ancaman Peredaran Orbit Satelit terhadap Keamanan Nasional: Pendekatan Analytical Hierarchy Process. Jurnal Keamanan Nasional, 4(2), 141–164. https://doi.org/10.31599/jkn.v4i2.393
Latipulhayat, A. (2024). Hukum Ruang Angkasa. Sinar Grafika.
Looney, J. W. (1996). Rylands v. Fletcher revisited: A comparison of English, Australian and American approaches to common law liability for dangerous agricultural activities. Drake J. Agric. L., 1, 149.
Masa’i, F., Vatikawa, A., & Putri, A. N. I. P. (2020). Tanggung Jawab Negara Terhadap Sampah Ruang Angkasa Menurut Hukum Internasional. JJurnal Ilmu Hukum Kyadiren: JIHK, 2(1), 89–96. https://doi.org/10.46924/jihk.v2i1.135
Muthia, N. F. (2021). Analisis Hukum Internasional Terhadap Demiliterisasi Ruang Angkasa [Universitas Hasanuddin]. https://repository.unhas.ac.id/id/eprint/17276/
Nugraha, M. R. I., Simangunsong, R. J., & Septaria, E. (2024). Penanganan Sampah Satelit Ruang Angkasa Pada Low Earth Orbit Berdasarkan Hukum Internasional. Sapientia et Virtus, 9(2), 430–445. https://doi.org/https://doi.org/10.37477/sev.v9i2.566
Patria Putra, M. R., & Handayani, I. (2023). Status Hukum Crew Interactive Mobile Companion (CIMON) sebagai Kecerdasan Buatan dalam Misi Luar Angkasa di International Space Station (ISS) berdasarkan Hukum Ruang Angkasa. Jurnal Hukum & Pembangunan, 53(4), 609–646. https://doi.org/10.21143/jhp.vol53.no4.1571
Pramono, A. (2011). Orbit Geostasioner (GSO) dalam Hukum Internasional dan Kepentingan Nasional Indonesia. Pandecta, 6(2), 128–138. https://journal.unnes.ac.id/nju/pandecta/article/download/2331/2384
Purwanto, H. (2009). Keberadaan Asas Pacta Sunt Servanda dalam Perjanjian Internasional. Mimbar Hukum - Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada, 21(1), 155–170. https://doi.org/10.22146/jmh.16252
Santriana, & Atika, B. N. (2024). Tanggung Jawab Negara Peluncur terhadap Sampah Satelit Ruang Angkasa Ditinjau menurut Outer Space Treaty 1967 dan Liability Convention 1972. Jurnal Thengkyang, 9(2), 167–181. https://jurnal.unisti.ac.id/thengkyang/article/view/283
Speck, E. (2024). School bus-sized satellite to come crashing into Earth’s atmosphere this week. FOX Television Stations. https://www.livenowfox.com/news/satellite-crashing-earths-atmosphere
Suesskind, V. F. Von. (2025). Orbital Battlefields?: A Proposal for Debris Mitigation Strategies in Space Conflict. Freeman Air & Space Institute, 27, 1–24. https://www.kcl.ac.uk/warstudies/assets/paper-27-victor-freiherr-von-suesskind.pdf
Supancana, I. B. R. (2012). Berbagai Perspektif Harmonisasi Hukum Nasional dan Hukum Internasional. Penerbit Universitas Atma Jaya Jakarta.
Suryaatmadja, S. (2020). Mitigasi Sampah Antariksa: Meninjau Kesiapan Regulasi Nasional. Mimbar Hukum - Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada, 32(1), 89. https://doi.org/10.22146/jmh.44624
Thressia, Y. (2021). Potensi Sumber Pembiayaan Alternatif dalam Pembangunan Bandar Antariksa Indonesia. Dharmasisya, 1(3), 1573–1582. https://scholarhub.ui.ac.id/dharmasisya/vol1/iss3/35/
UNOOSA. (2025). Space Law. United Nations Office for Outer Space Affairs. https://www.unoosa.org/oosa/en/ourwork/spacelaw/index.html
Wardana, Y. R., & Putranti, I. R. (2021). Investasi Bandara Angkasa/Spaceport dalam Mewujudkan Indonesia Sebagai Spacefaring Nation Studi Kasus Kerjasama Indonesia dan China. Journal of International Relations, 7(4), 202–214. http://ejournal-s1.undip.ac.id/index.php/jihiWebsite:http://www.fisip.undip.ac.id
Widodo, M., & Miano, M. R. R. (2024). Konsep Common but Differentiated Responsibility and Respective Capabilities (CBDR-RC): Upaya Mitigasi Pasif Terhadap Sampah Antariksa. Binamulia Hukum, 13(1), 11–24. https://doi.org/10.37893/jbh.v13i1.658
Zainuddin, M., & Karina, A. D. (2023). Penggunaan Metode Yuridis Normatif dalam Membuktikan Kebenaran pada Penelitian Hukum. Smart Law Journal, 2(2), 114–123. https://doi.org/https://doi.org/10.34310/slj.v2i2.26
Zhafran, A. M., Lestari, M. M., & Diana, L. (2023). Upaya Pembersihan Sampah Ruang Angkasa Sebagai Implementasi Tanggung Jawab Negara Terhadap Penanganan Sampah Ruang Angkasa Berdasarkan Space Treaty 1967. Sibatik Journal Jurnal Ilmiah Bidang Sosial, Ekonomi, Budaya, Teknologi, Dan Pendidikan, 2(7), 1919–1938. https://publish.ojs-indonesia.com/index.php/SIBATIK/article/download/1061/694/1932
Downloads
Published
Issue
Section
License
Authors who publish with this journal agree to the following terms:
Authors retain copyright and grant the journal right of first publication with the work simultaneously licensed under a Creative Commons Attribution License that allows others to share the work with an acknowledgement of the work's authorship and initial publication in this journal.
Authors are able to enter into separate, additional contractual arrangements for the non-exclusive distribution of the journal's published version of the work (e.g., post it to an institutional repository or publish it in a book), with an acknowledgement of its initial publication in this journal.
Authors are permitted and encouraged to post their work online (e.g., in institutional repositories or on their website) prior to and during the submission process, as it can lead to productive exchanges, as well as earlier and greater citation of published work (See The Effect of Open Access).

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.