Tuturan Pedagang-Pembeli dan Pemanfaatannya dalam Pembelajaran Keterampilan Berbahasa
DOI:
https://doi.org/10.35194/jd.v1i2.581Keywords:
kode bahasa, tingkat tutur, jenis kelamin, pedagang, pembeliAbstract
Artikel ini bertujuan untuk mendeskripsikan wujud kode bahasa yang digunakan dalam tuturan pedagang dan pembeli di pasar tradisional Pasar Induk Cianjur dilihat dari jenis kelamin pengguna, dampak penggunaan kode bahasa terhadap terjadinya transaki jual beli yang dilakukan, serta pemanfaatan kode bahasa untuk peningkatan keterampilan berbahasa para pemuda dalam berwirausaha. Data berupa percakapan yang diambil dari pedagang dan pembeli berdasarkan jenis kelamin, data dianalisis secara deskriptif kualitatif. Berdasarkan hasil penelitian penggunaan bahasa Sunda dengan dialek Cianjur digunakan pada setiap tuturan dengan diksi prefix sa- seperti dalam kata sabaraha dan sakitu. Diksi lain yaitu dengan akhiran –na dalam kata “wayahna”, akhiran –eun seperti dalam kata “sarebuen”dan lain-lain. Terdapat dua pilihan tingkat tutur yaitu tingkat tutur halus (lemes) dan loma (akrab) yang dipergunakan baik dalam tuturan pedagang ataupun pembeli. Pedagang perempuan paling banyak menggunakan tingkat tutur lemes dengan hampir 27,72 % dari seluruh tuturan yang ada dalam percakapan. pedagang laki-laki berada di urutan selanjutnya yaitu dengan menggunakan sekitar 10,44 % tuturannya menggunakan bahasa lemes. Lalu pembeli laki-laki dengan 24,36 % dan paling jarang adalah pembeli perempuan yang hanya menggunakan14,63 % ujarannya untuk berkata halus.
Kata kunci: kode bahasa, tingkat tutur, jenis kelamin, pedagang, pembeli.
This article aims to describe the form of language codes used in the speech of traders and buyers in the traditional markets of Pasar Induk Cianjur viewed from the user's gender, the impact of the use of language codes on the occurrence of buying and selling transactions carried out, as well as the use of language codes to improve the language skills of young people in entrepreneurship. Data in the form of conversations taken from traders and buyers by sex, data were analyzed descriptively qualitatively. Based on the results of research on the use of Sundanese with the Cianjur dialect used in each speech with the prefix diction as in the words sabaraha and sakitu. Another translation is the suffix -na in the word "wayahna", the suffix -un as in the word "sarebuen" and others. There are two choices of speech level, they are the level of soft speech (lemes) and loma (familiar) which are used both in the speech of traders and buyers. Female traders use the most speech level lemes with almost 27.72% of all speech in the conversation. Male traders are in the next sequence, namely by using about 10.44% of the speech using lemes language. Then male buyers with 24.36% and most rarely are female buyers who only use 14.63% of their utterances to say fine.
Keywords: language code, speech level, gender, trader, buyer.
References
____.2004. Sosiolinguistik: PerkenalanAwal (EdisiRevisi). Jakarta: PT.RinekaCipta.
Nababan. 1986. Sosiolinguistik Suatu Pengantar. Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama
Pateda, Mansur. 1987. Sosiolinguistik. Bandung : Angkasa
Sugiyono. 2014. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R & D. Bandung : Alfabeta.
Suharsimi, Arikunto. 2002. ProsedurPenelitian. Jakarta : PT Rineka Cipta.
Suwito, 1983. Sosiolinguistik Teori dan Problema. Surakarta : Fakultas Sastra Universitas 11 Maret.
Downloads
Published
Issue
Section
License
- Authors retain copyright and grant the journal right of first publication with the work simultaneously licensed under a that allows others to share the work with an acknowledgement of the work's authorship and initial publication in this journal.
- Authors are able to enter into separate, additional contractual arrangements for the non-exclusive distribution of the journal's published version of the work (e.g., post it to an institutional repository or publish it in a book), with an acknowledgement of its initial publication in this journal.
- Authors are permitted and encouraged to post their work online (e.g., in institutional repositories or on their website) prior to and during the submission process, as it can lead to productive exchanges, as well as earlier and greater citation of published work.