FORMULASI GALANTIN AYAM YANG DIPERKAYA DENGAN BUBUK DAUN KELAKAI (Stenochlaena palustris) DAN BUBUK DAUN KELOR (Moringa oleifera) PENGARUHNYA TERHADAP ZAT BESI, SERAT DAN KADAR ABU

Penulis

  • Aissatul Amiroh Universitas Dr Soetomo

DOI:

https://doi.org/10.35194/prs.v7i2.5557

Kata Kunci:

Daun kelor Daun kelakai

Abstrak

Bubuk daun kelakai dan bubuk daun kelor sebagai sumber zat besi dan serat kasar. Kekurangan zat besi dapat mengakibatkan anemia dan kekurangan serat kasar dapat mengakibatkan gangguan pencernaan. Penggunaan bubuk daun kelakai dan bubuk daun kelor dalam galantin ayam menjadi alternatif untuk meningkatkan kandungan zat besi dan serat kasar dalam makanan olahan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan bubuk daun kelakai (Stenochlaena palustris) dan bubuk daun kelor (Moringa oleifera) terhadap kadar zat besi, kadar serat kasar, dan kadar abu serta menentukan formulasi terbaik galantin ayam yang diperkaya dengan bahan tersebut. Metode dalam penelitian ini adalah eksperimental. Rancangan percobaan yang digunakan pada penelitian ini adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan faktor-faktor dalam penelitian ini adalah perbedaan proporsi antara bubuk daun kelakai (A) dan bubuk daun kelor (O) yang terdiri 5 perlakuan. Perlakuan 1 (A : O = 5%:1%), Perlakuan 2 (A : O = 4%:2%), Perlakuan 3 (A : O = 3%:3%), Perlakuan 4 (A : O = 2%:4%), Perlakuan 5 (A : O = 1%:5%). Setiap perlakuan diulang sebanyak 3 kali. Variabel pengamatan meliputi kadar zat besi, kadar serat kasar, kadar abu dan organoleptik. Setelah dilakukan penelitian hasil ANOVA zat besi, serat kasar, dan kadar abu memperlihatkan nilai signifikan 0,000. Nilai tersebut < 0,05 maka terdapat perbedaan perlakuan yang signifikan. uji efektivitas dapat kesimpulan sebagai berikut: perlakuan P3 yaitu bubuk daun kelakai 3% dan bubuk daun kelor 3% yang memiliki nilai hasil (NH) tertinggi sebesar 0,628. Kriteria variabel perlakuan P3 yaitu zat besi 22,7833 mg, serat kasar 1,0567%, kadar abu 4,7833%, rasa 4, warna 4, dan aroma 4.

Kata kunci : bubuk daun kelakai, bubuk daun kelor, galantin ayam

Referensi

Augustyn, G. H., Tuhumury, H. C. D., & Dahoklory, M. (2017). Pengaruh penambahan tepung daun kelor (Moringa oleifera) terhadap karakteristik organoleptik dan kimia biskuit mocaf (Modified cassava flour). AGRITEKNO, Jurnal Teknologi Pertanian, 6(2), 52–58.
Ayustaningwarno, F. (2014). Teknologi pangan teori praktis dan aplikasi. In Graha Ilmu Yogyakarta (pp. 1–8).
Firlianty, Najamuddin, A., & Yususf, N. S. (2024). Inovasi produk biskuit berbasis daging ikan toman dan tepung kelakai sebagai makanan fungsional. Jurnal Ilmu Pertanian, 18(1), 27–38.
Helmiati, S., Rustadi, R., Isnansetyo, A., & Zulprizal, Z. (2020). Evaluasi Kandungan Nutrien dan Antinutrien Tepung Daun Kelor Terfermentasi sebagai Bahan Baku Pakan Ikan. Jurnal Perikanan Universitas Gadjah Mada, 22(2), 149.
Irawan, D., Wijaya, C. H., Limin, S. H., Hashidoko, Y., Osaki, M., & Kulu, I. P. (2006). Etnobotanical Study and Nutrient Potency of Local Traditional Vegetables in Central Kalimantan. Japan Society of Tropical Ecology, 15(4), 442–448.
Ismarani. (2012). Potensi senyawa tanin dalam menujukan produksi ramah lingkungan. Jurnal Agribisnis & Pengembangan Wilayah, 3(2), 46–55.
Juliani, E., Saragih, B., & Syahrumsyah, H. (2019). Pengaruh formulasi daun kelakai (Stenochlaena palustris (Burm. F) Bedd) dan jahe (Zingiber officinale Roscoe) terhadap sifat sensoris dan aktivitas antioksidan minuman herbal. Prosiding Balai Riset Dan Standardisasi Industri, 53–60.
Kartika Wening, D., Istifarani Latifah, F., & Ratnasari, D. (2024). Roti manis substitusi tepung mocaf dan daun kelor (Moringa oleifera Lamk.) dengan isi pasta kacang merah (Phaseolus Vulgaris L.). Jurnal Ilmiah Gizi Dan Kesehatan (JIGK), 5(02), 93–101.
Kemenkes RI. (2013). Riset kesehatan dasar tahun 2013. Menteri Kesehatan Republik Indonesia Jakarta.
Kemenkes RI. (2018). Riset kesehatan dasar tahun 2018. Menteri Kesehatan Republik Indonesia Jakarta.
Kemenkes RI. (2019). Angka kecukupan gizi yang dianjurkan untuk masyarakat indonesia. Menteri Kesehatan Republik Indonesia. Jakarta.
Khusnaini, N. S., & Syainah, E. (2021). Formulasi stik dari kelakai (Stenochlaena palustris) dan ikan gabus (Channa striata) sebagai produk alternatif tinggi zat besi. Jurnal Riset Pangan Dan Gizi, 3(2), 26–38.
Krisnadi, A. D. (2015). Kelor super nutrisi (Moringa Indonesia).
Kurniawati, I., Fitriyya, M., & Wijayaanti. (2018). Karakteristik tepung daun kelor dengan metode pengeringan sinar matahari. Prosiding Seminar Nasional Unimus, 1.
Legowo, A. M., & Nurwantoro. (2004). Diktat kuliah analisis pangan. In Universitas Diponegoro Semarang. Universitas Diponegoro.
Maharani, D. M., Hadiah, S. N., & Haiyinah. (2006). Studi potensi kalakai (Stenochlaena palustris (Burn.f bedd) sebagai pangan fungsional. Universitas Lambung Mangkurat. Banjarbaru, 73–82.
Maryanto, A. (2008). Manfaat serat bagi tubuh (CV Pamularsih, Ed.; Sulistiono). CV Pamularsih Jakarta.
Novitaroh, A., Sulistiani, R. P., Teguh Isworo, J., & Syadi, Y. K. (n.d.). Sifat sensoris, kadar protein dan zat besi pada cookies daun kelor. Jurnal Gizi, 11(1), 2022.
Shada, R., Hafizah, E., & Sauqina. (2022). Pengaruh penambahan filler kalakai (Stenochlaena Palustris) terhadap kandungan protein dan serat dari nugget ayam. Jurnal Sains Dan Terapan, 1(3), 2809–7750.
Susilawati, M. (2015). PERANCANGAN PERCOBAAN (pp. 1–141). Jurusan matematika fakultas MIPA universitas Udayana.
Trisnawati, L. M., & Nisa, F. C. (2015). Pengaruh penambahan konsentrat protein daun kelor dan karagenan terhadap kualitas mie kering tersubstitusi mocaf. Jurnal Pangan Dan Agroindustri, 3(1), 237–247.
Wijinindyah, A., Putri, S. A., & Saputra, A. R. (2024). Daya terima nugget ayam dengan fotifikasi tepung daun kalakai pretreatment asam jeruk nipis. Prosiding Seminar Nasional Biologi, 3, 12–17.
Zardhari, M., & Bahar, A. (2021). Tingkat kesukaan dan nilai gizi egg roll dengan penambahan tepung tempe dan tepung daun kelor. Jurnal Gizi Unesa, 01(01), 65–71.

Diterbitkan

2025-12-26

Terbitan

Bagian

Articles