PENGARUH KERAGAMAN JENIS ORGANISME TERHADAP KESUBURAN TANAH

Penulis

  • Dela Febriana Universitas Borobudur
  • Darwati Susilastuti Universitas Borobudur

DOI:

https://doi.org/10.35194/agsci.v14i1.4055

Kata Kunci:

Keragaman, Organisme tanah, Kesuburan tanah.

Abstrak

Sifat-sifat alami tanah berbeda-beda karena pengaruh berbagai faktor dan proses yang terlibat dalam pembentukan tanah dari berbagai jenis bahan induk pada kondisi lingkungan yang berbeda-beda. Organisme berperan sebagai agen hayati yang dapat mempengaruhi sifat kimia, fisik, dan biologi tanah. Organisme tanah dapat digunakan sebagai bioindikator kesuburan tanah, sehingga penting untuk memahami jenis organisme dalam tanah dan peranannya terhadap kesuburan tanah. Metode yang digunakan dalam penulisan makalah ini adalah studi literatur atau studi kepustakaan. Studi literatur melibatkan pengumpulan data dan informasi dengan menggali pengetahuan dan ilmu pengetahuan dari berbagai sumber seperti buku, tulisan, dan sumber lain yang relevan. Organisme tanah telah diklasifikasikan berdasarkan ukuran tubuhnya menjadi mikroflora (1-100µm, misalnya bakteri dan jamur), mikrofauna (3-120 µm, misalnya protozoa dan nematoda), mesofauna (80 µm - 2 mm, misalnya springtail dan tungau), makrofauna (500 µm-50 mm, misalnya cacing tanah dan rayap), dan tumbuhan berbuluh. Organisme tanah sangat penting untuk menjaga kesuburan tanah, fungsi ekologi, dan jasa ekosistem karena mereka memediasi proses biologi yang berguna seperti siklus unsur hara dan fiksasi nitrogen, pengendalian hama dan penyakit secara biologi, dekomposisi bahan organik dan penyerapan karbon, pemeliharaan struktur tanah yang baik untuk tanaman, pertumbuhan dan infiltrasi air hujan, dan detoksifikasi kontaminan. Oleh karena itu, proses yang mendukung pemeliharaan kesuburan tanah, fungsi ekologi, dan jasa ekosistem harus didorong dengan penerapan praktik pengelolaan tanah dan tanaman yang mendorong pengembangan komunitas organisme hidup yang sehat dan beragam.

Referensi

Anne M, Martha M.P, Charles S.W. (2014). Plant Nutrients and Soil Fertility. University of Nebraska– Lincoln. Lincoln and the United States Department of Agriculture.
Ansyori. (2004). Potensi Cacing Tanah sebagai Alternatif Bioindikator Pertanian. Berkelanjutan. Makalah. Sekolah Pasca Sarjana/ S3; IPB.
Azhar, H.M.& D. Susilastuti. (2017). Analisis Keragaman Hayati Tanaman Padi (Oryza Sativa, L). Agrisia Vol. 9 (2): 64-82.
Brady NC, Weil RR (2008). The Nature and Properties of Soils. Revised14th ed. Pearson Prentice Hall. New Jersey, USA; 2008.
de Boer W, Folman LB, Summerbell RC, Boddy L (2005). Living in afungal world: impact of fungi on soil bacterial niche development. FEMS Microbiology. Rev. 29, 795–811.
Doran JW, Sarrantonio M, Liebig MA (1996). Soil health andsustainability. Adv. Agron., 56: 1-54.
Edmundo B (2007). Soil biota, ecosystem services and land productivity. Ecological Economics, 6 4:269 – 285.
Endriyati, V., (2019). Fungsi Tanah Secara Fisik, Biologi Dan Kimia Juga Horison Tanah.
http://cybex.pertanian.go.id/mobile/artikel/77232/Fungsi-Tanah-Secara-Fisikbiologi-Dan-KimiaJuga-Horison-Tanah. Diunduh 12 Juli 2023.
Jansen DM, Stoorvogel JJ, Shipper RA (1995). Using sustainability indicators in agricultural land use analysis: An example from CostaRica. Neth. J. Agr. Sci., 43(1):61-82.
Mishra RR (2010). Soil microorganisms and organic matter decomposition. In. Soil Microbiology. 4th ed. Published by Satish Kumar Jain., 2010; 83-104.
Moahmed, A.A. (2021). Literature Review as a Research Methodology: An Overview and Guidelines. Information System Engineering Departement. Erbil olytechnic University.
Ojo JOA, Ogunwale JA, Oluwatosin GA (2011). Fundamental of tropical soil science. Evans. Pp. 15-18.
Pernando, R.D.,D. Susilastuti, F.D. Rahmayanti & F.I. Lubis, (2022). Pengaruh cuaca, musuh alami, dan persentase kerusakan buah terhadap populasi serangga penyerbuk kelapa sawit di tanah sulfat masam. Jurnal Kultivasi Vol. 21 (1) April 2022: 69-74.
Rigobelis EC, Nahas E (2004). Seasonal fluctuations of bacterial population and microbial activity in Soils calibrated with Eucalyptus and Pinus. Sci. Agric., 6:88-93.
Sastrapradja, S.D. dan E.A. Widjaja, (2010). Kanekaragaman Hayati Pertanian menjamin Kedaulatan Pangan. LIPI Press, Jakarta.
Sharmila R, Pradeep S, Roy MM (2008). Soil Biodiversity under Forage Production Systems. IGFRI, Jhansi (India), Pp.1-25.
Sulaimon, A.M dan Badmus, H.A. (2021). Micro and Macro (Organism) and Their Contribution to Soil Fertility. Frontiers in Environmental Microbiology. Vol. 7, No. 2
Susilastuti, D. (2017). Poverty Reduction Models: Indonesian Agricultural Economic Approach. European Research Studies Journal. XX (3A):164-176. https://ersj.eu.
Swaminathan, M.S. (1983). Science and the Conquest Hunger Concept. Publishing Company,
New Delhi.
Swaminathan, M.S. (1996). Agrobiodiversity and farmer’s Right. Proc. Of a Technical Consultation on an Implementation Framework for Farmers Right. Konark Publisher Pvtl.td. New Delhi.
Swift MJ, Anderson JM (1993). Biodiversity and ecosystem function in agricultural systems. In: Schulze, E.D., Mooney, H.A. (Eds.), Biodiversity and ecosystem function. Ecological Studies, vol. 99. Springer-Verlag, Berlin, pp. 14–4.
Terkina IA, Parfenova VV, Ahn TS (2006). Antagonistic activity o factinomycetes of Lake Baikal. Applied Biochemical Microbiology .42(2), 173–176.
Utami, Feri Hari. (2015). Penentuan Tingkat Kesuburan Tanah di Balai Penyuluhan Petanian Perikanan dan Kehutanan Dengan Menggunakan Algoritma Naive Bayes Dalam Data Mining. Riau. Journal Of Computer Science 1(1): 27-38.
Valentín L, Kluczek-Turpeinen B, Oivanen P, Hatakka A, Steffen K,Tuomela M (2009). Evaluation of basiomycetous fungi for treatment of contaminated soil, J. Chem. Technol. Biotechnol. 84;851858.
Von Uexkuell HR (1988). Nutrient cycling in soil management and smallholder development in the Pacific Islands.In: IBSRAM (International Board for Soil Research and Management) Proceedings. Bangkok, p. 21.

Unduhan

Diterbitkan

2024-05-08

Terbitan

Bagian

Articles